Chủ Nhật, 10 tháng 1, 2016

7 Pemain Top yang Karirnya Menurun setelah Pindah Klub

Dalam sepak bola membuat keputusan merupakan hal yang fatal bagi tiap pesepak bola profesional ketika memutuskan untuk bertahan atau pindah ke klub lain. Laiknya berjudi, pindah klub juga demikian.

Banyak pesepak bola yang sebelumnya tampil bagus bersama klub lamanya kemudian tampil sangat buruk, bahkan jadi bulan-bulanan media di klub barunya.

Banyak faktor yang dapat menjadi penyebab buruknya penampilan seorang pemain, mulai dari strategi yang tidak sesuai, penempatan posisi yang berbeda, hingga perbedaan budaya jika pindah ke klub luar negeri.

Sudah banyak pemberitaan media mengenai pemain-pemain top yang kemudian kariernya menurun setelah pindah klub. Siapa saja mereka?

7. Kaka (AC Milan ke Real Madrid)

Real Madrid v Borussia Dortmund - UEFA Champions League Semi Final: Second Leg

Pemenang Ballon d’Or dan gelar-gelar prestisius bersama AC Milan kembali jadi korban krisis finansial di Italia. Kaka yang notabene betah di San Siro dan sejajar dengan legenda klub lainnya ‘terpaksa’ dijual ke Real Madrid pada 2009 dengan mahar super besar.

Presiden yang baru terpilih, Florentino Perez, memulai era Los Galacticos jilid dua dengan mendatangkannya bersama Cristiano Ronaldo. Namun sayang nasib Kaka di Santiago Bernabeu tak ubahnya Michael Owen.

Pemain yang elegan saat bermain itu, bertahan di Madrid hingga 2013 dan jarang bermain akibat cedera serta performanya yang jauh menurun ketimbang di Milan dahulu. Alhasil ia kembali ke Milan pada 2013/14 dan memutuskan pulang ke Brasil bermain untuk Sao Paulo sebagai pemain pinjaman klub Major League Soccer (MLS), Orlando City.

6. Robin Van Persie (Manchester United ke Fenerbahce)

Manchester United v Newcastle United - Premier League

Van Persie memiliki banyak kenangan indah di Inggris kala bermain di pentas Premier League bersama Arsenal (2004-2012) dan Manchester United (2012-2015), setelah sebelumnya tampil apik bersama Feyenoord pada 2001 hingga 2004.

Tapi ketika Louis van Gaal memutuskan untuk tidak menggunakan jasanya pada awal bursa transfer musim panas ini. Van Persie justru memilih Fenerbahce.

Di Turki pun ia jarang bermain dan hanya jadi penghangat bangku cadangan. Usia Van Persie kini 32 tahun dan performanya sudah jauh menurun, terutamanya setelah gagal membawa Timnas Belanda lolos Euro 2016.

5. Diego (Werder Bremen ke Juventus)

Juventus FC v ACF Fiorentina - Serie A

Pemilik nama lengkap Diego Ribas da Cunha terkenal di eranya dahulu saat masih bermain dengan Santos (2002-2004), Porto (2004-2006), dan Werder Bremen (2006-2009). Diego dilihat sebagai playmaker klasik nomor 10 yang langka dan berada di belakang penyerang.

Namun titik turun performanya mulai terlihat pada 2009 ketika pindah ke Juventus yang masih mencari identitas sebagai klub besar Italia, setelah sempat berjuang di Serie B. Diego kesulitan memerankan peran sebagai trequartista Juventus, dan lawan cenderung mudah mematikannya sekaligus menghentikan permainan Bianconeri.

Ia pun kemudian memutuskan kembali ke Jerman bermain untuk VFL Wolfsburg (2010-2014) sebelum pergi ke Atletico Madrid (2011-2012 dipinjamkan, 2014) dan berakhir di Turki bersama Besiktas dari 2014 hingga saat ini.

4. Ricardo Quaresma (Porto ke Inter Milan)

AS Roma v FC Inter Milan - Serie A

Banyak yang menyamai Luis Nani dan Ricardo Quaresma sebagai suksesor Cristiano Ronaldo di masa lalu dan Timnas Portugal karena memiliki gaya main yang sama. Posisi mereka juga sama yakni penyerang sayap alias winger.

Namun kedua pemain itu gagal mengemban status tersebut. Khususnya kepada Quaresma saat membuat keputusan besar dan sayangnya terbukti salah, ketika memutuskan pindah ke Inter Milan pada 2008.

Quaresma gagal bersinar hingga sempat dipinjamkan ke Chelsea pada 2009 sebelum akhirnya hengkang ke Besiktas pada 2010. Dari sana penampilan pria yang kini berumur 32 tahun itu tak kunjung membaik setelah bersinar di Porto pada kurun waktu 2004-2008.

3. Andriy Shevchenko (AC Milan ke Chelsea)

UEFA Champions League - Werder Bremen v Chelsea

Salah satu penyerang hebat dan ganas di era keemasannya bersama AC Milan yang juga disegani di masa lalu. Shevchenko bermain pada kurun waktu 1999-2006 di Milan bersama barisan legenda seperti Paolo Maldini, Alessandro Nesta, Gennaro Gattuso, Andrea Pirlo, dan Clarence Seedorf.

Namun ketika pindah ke Chelsea pada 2006 dengan mahar 30,8 juta pound. Shevchenko kehilangan taji dan kehebatannya seperti saat bersama Il Diavolo Rosso, meski ia bertahan hingga 2009. Ia menjadi korban ambisi pemilik klub, Roman Abramovich, yang ingin menjadikan Chelsea klub besar dunia.

Sheva kembali ke Milan sebagai pemain pinjaman setelahnya, namun performanya kadung menurun dan pria asal Ukraina pun memutuskan kembali bermain untuk klub kampung halamannya, Dynamo Kyiv.

2. Radamel Falcao (Atletico Madrid ke AS Monaco)

Everton v Manchester United - Premier League

Julukan El Tigre disematkan kepada Falcao karena ketajamannya dalam merobek gawang lawan, dan ia mampu melakukannya sama baik dengan kedua kaki dan kepalanya. Bomber Kolombia itu menggila bersama River Plate, FC Porto, dan Atletico Madrid.

Anti klimaks pun muncul setelah ia tergiur dana super besar yang ditawarkan AS Monaco pada 2013. Sejak pindah ke Prancis nama Falcao mulai tak terdengar dan membuat keputusan besar untuk menerima pinangan Manchester United pada 2014, sebagai pemain pinjaman.

Dari sana hingga akhir musim lalu Falcao kehilangan daya ledak di kotak penalti lawan. Pun begitu musim ini bersama Chelsea yang coba memberinya kesempatan kedua untuk unjuk gigi. Falcao tak lagi sama seperti masa lalu.

1. Fernando Torres (Liverpool ke Chelsea)

Chelsea v Manchester United - Premier League

Pada awalnya keputusan Torres pindah ke Liverpool pada 2007 merupakan keputusan yang jitu, meninggalkan kampung halaman dan Atletico Madrid. Torres sejajar dengan salah satu penyerang hebat Liverpool pada kurun waktu 2007-2011.

Malapetaka timbul ketika ia memutuskan pergi pada 2011 ke Chelsea. Kariernya mulai menurun sejak itu, Torres kehilangan ketajaman bersama The Blues yang membelinya seharga 50 juta pound.

Alhasil Torres bak kutu loncat dipinjamkan Chelsea ke Milan yang kemudian mempermanenkan kontraknya. Bersama Rossoneri ia juga tidak menemukan kembali performa hebat hingga ia dijuluki El Nino dan akhirnya memutuskan kembali ke Atletico pada 2015.

Beruntung meski karier Torres menurun, ia pernah memenangi gelar prestisius seperti Champions League, Europa League, Piala Dunia dan Euro bersama Chelsea dan Timnas Spanyol.

0 nhận xét:

Đăng nhận xét