Investor-investor asing belakangan ini mulai berani berinvestasi kepada klub sepak bola seperti halnya Sheikh Mansour di Manchester City dan Nasser Al-Khelafi di Paris Saint-Germain (PSG). Mereka melakukannya karena melihat potensi pemasukan besar jika klub yang mereka datangi meraup kesuksesan besar, dan menjadi salah satu klub besar Eropa.
Meski begitu tidak semua investor yang menjadi pemilik klub tersebut dipuja suporter karena berani mengeluarkan uang banyak di bursa transfer pemain, dan mengembangkan infrastruktur klub.
Ada juga pemilik klub yang dibenci suporter karena tindakan pasif mereka setelah mengakuisisi klub, dan tidak melakukan apa-apa untuk membenahinya, bahkan cenderung mengabaikannya jika klub tengah terpuruk.
Dan berikut barisan nama tujuh pemilik klub yang dibenci oleh suporter baik dari suporter klub ataupun luar klub.
7. George Gillet dan Tom Hicks (Liverpool 2007-2010)
Era Tom Hicks dan George Gillet di Liverpool selama tiga tahun bisa dikatakan periode kelam Merseyside Merah. Datang dengan janji-janji manis kepada fans, pada akhirnya semua itu hanya omong kosong belaka.
Eksistensi Liverpool sebagai salah satu klub tersukses Inggris nyaris punah di tangan kedua pengusaha Amerika Serikat itu. Hicks dan Gillet menyulut amarah fans saat membebani Liverpool dengan hutang besar, kebohongan merenovasi ulang Anfield, hingga akhirnya pengadilan tinggi London mencopot jabatan mereka pada 15 Oktober 2010.
6. Vincent Tan (Cardiff City 2010 – hingga saat ini)
Pengusaha asal Malaysia yang tidak tahu cara menjaga hubungan baik dengan fans Cardiff, Vincent Tan disebut fans diktator karena memperlakukan klub semena-mena seakan menjadi miliknya sendiri, dan melakukan beberapa perubahan yang radikal.
Ia memecat manajer Malky MacKay yang dicintai suporter, mengganti personil eksekutif terbaik klub Iain Moody dengan pria magang berusia 23 tahun yang berteman dengan anaknya. Bahkan Tan melakukan perubahan besar warna berusia 114 tahun yang jadi ciri khas klub dari biru ke merah, dan mengganti logo bluebird di dada dengan naga.
5. Thaksin Shinawatra (Manchester City 2007-2008)
Thaksin Shinawatra adalah Perdana Menteri Thailand yang dibenci fans City karena mengobrak-abrik sistem The Citizens, bahkan berpotensi membuat mereka kian terpuruk saat membeli klub pada 21 Juni 2007. Meski membeli pemain yang menjanjikan, jiwa Thaksin bukan di sepak bola.
Manajer City kala itu Sven-Goran Eriksson sampai berkata bahwa Thaksin tidak paham sepak bola dan tak tahu apa yang ia lakukan. Thaksin satu-satunya pemilik klub yang dikudeta oleh pihak militer dan tersandung kasus korupsi, hingga ia menjual klub ke penguasaha Abu Dhabi pada 2008.
Thaksin menjalani pengasingan dari Thailand dan beruntung tak membuat fans City makin geram padanya, dengan membawa klub dalam kasus-kasus kontroversialnya itu.
4. Anton Johnson (Rotherham, Southend, Scarborough (Era 1980-1999)
Bagi publik namanya asing. Tapi bagi sepak bola Inggris alias FA nama Anton Johnson merupakan benalu untuk klub-klub yang pernah dibelanya. Meski hanya memiliki tim-tim gurem, Johnson sangat cepat menjadi musuh publik nomor satu fans setia mereka.
FA pada 1985 memberinya larangan untuk beraktivitas di kancah sepak bola Inggris karena Johnson secara illegal menangani dua klub bersamaan, Rotherham dan Southend. Bahkan ia melakukan malpraktik di kedua klub tersebut.
Namun entah darimana ia lolos dari hukuman itu dan mengakuisisi Scarborough pada 1998. Dan selama sembilan tahun ke depan klub memiliki hutang sebesar 2,5 juta poundsterling, di bawah kepemimpinan Johnson Scarborough dinyatakan bangkrut pada Juni 2007 setelah klub itu memiliki sejarah berdiri selama 128 tahun.
3. Malcolm Glazer (Manchester United 2003 – hingga saat ini)
Malcom Glazer meninggal dunia pada 2014 namun nama Glazer tetap tenar di United karena keluarganya meneruskan titah sang ayah tersebut. Membeli saham United perlahan di antara 2003 dan 2005, tingkah laku Glazer mulai disorot fans setia Setan Merah.
Bahkan kampanye “Love United Hate Glazer” telah dilakukan fans sejak Glazer mengambil alih United. Mereka sadar bahwa klub kesayangannya itu dibebani beban hutang super besar, dan kumpulan suporter bernama Red Knights ingin menyelamatkan klub kesayangannya itu dengan mengumpulkan massa pendukung.
Prestasi klub berjalan, tapi hutang klub juga bertambah dan berpotensi menyebabkan kebangkrutan jika manajemen tak segera mengatasinya. Hal itulah yang membuat fans khawatir hingga ingin keluarga Glazer pergi dari Old Trafford.
2. Mike Ashley (Newcastle United 2007 – 2014)
Fans The Magpies takkan pernah melupakan nama pria kelahiran Burnham, Inggris itu. Ashley tak hanya mengobrak-abrik perut Newcastle, tapi juga jadi musuh nomor satu publik St James Park.
Ashley tak memiliki pengalaman menjadi pemilik klub dan melakukan perubahan yang menyulut amarah fans. Dianggap arogan oleh fans, memecat manajer Kevin Keegan, menjadikan Dennis Wise sebagai Director of Football, dan membuat klub degradasi setelah 16 tahun di Premier League.
Rezimnya bertahan lama tapi situasi klub kian ‘berkarat’ alias hancur perlahan dari dalam.
1. Sulaiman Al-Fahim dan Ali Al-Faraj (Portsmouth 2009-2010)
Dua pengusaha Arab Saudi yang ‘numpang lewat’ di Portsmouth dan menghancurkannya pada kurun waktu 2009-2010, membuat geregetan fans The Pompey. Al-Fahim hanya memimpin enam pekan sebelum akhirnya sadar ia tak punya uang.
Lalu Al-Faraj mengambil alih dan di eranya, pemain hingga staf telat dibayar selama empat kali. Pemasukan klub dari uang televisi dibayar untuk membayar hutang, dan juga pajak yang belum dibayar.
Bahkan indikasi ia tak menyukai sepak bola terlihat dengan ketidakhadirannya menyaksikan Portsmouth bermain di Fratton Park, Al-Faraj tak pernah menyaksikan timnya bermain hingga klub tertatih-tatih dan terdegradasi.






0 nhận xét:
Đăng nhận xét