Fokus kepada satu hal hingga benar-benar menguasainya merupakan hal yang bagus untuk dilakukan. Namun dari aspek sepak bola, pesepak bola di era modern ini dituntut untuk dapat bermain di banyak posisi alias versatile player.
Tak jarang banyak pemain yang bisa bermain di banyak posisi, selain posisi terbaiknya saat ini. Kerapkali pelatih atau manajer tim menempatkannya di posisi yang bukan posisi favoritnya, berdasarkan kemampuan yang dimilikinya.
Bahkan transisi posisi itu kerap berubah haluan jauh, seperti contoh penyerang yang berubah menjadi bek sayap kanan sepertinya halnya Dirk Kuyt di Timnas Belanda, pada Piala Dunia 2014 saat masih diarsiteki Louis van Gaal.
Kuyt bukan satu-satunya pemain serba bisa di Eropa. Masih ada pemain lainnya yang memiliki kecerdasan beradaptasi di posisi yang berbeda, siapa saja mereka?
Semua tentang sepak bola ada di aplikasi FTB90. Download di App Store dan Play Store.
7. Wayne Rooney (Manchester United)
Sejak datang dari Everton pada 2004. Rooney lebih dikenal sebagai pemain yang agresif, enerjik dan menggebu-gebu di tiap aksinya. Namun seiring bertambahnya usia, Rooney kian dewasa dan menjabat sebagai kapten United dan Timnas Inggris.
Rooney berposisi sebagai penyerang. Namun ia pernah bermain sebagai winger yang menyuplai pergerakan Cristiano Ronaldo di United, gelandang tengah, dan juga bek ketika tim bertahan untuk mempertahankan keunggulan.
Semua kemampuan itu ia miliki karena Rooney memiliki kesadaran taktik yang tinggi, beroperasi di lini tengah dan piawai mengoper bola lambung kepada rekan-rekannya. Bahkan demi kelangsungan kariernya, maestro lini tengah, Xavi Hernandez pernah menyarankannya bermain sebagai gelandang.
6. Daley Blind (Manchester United)
Putra dari legenda Belanda, Danny Blind memiliki kecerdasan taktik yang baik dan jadi andalan Louis van Gaal di Timnas Belanda dan juga United saat ini. Blind sedianya tak memiliki skill olah bola yang hebat, tapi ia bisa menutupinya dengan penempatan posisi dan pemahaman taktik yang cermat.
Blind juga memiliki kaki kiri sebagai kekuatan terbaiknya. Pemain berusia 25 tahun beroperasi sebagai bek kiri di Belanda dan klubnya dulu, Ajax Amsterdam. Namun Van Gaal bereksperimen menempatkannya sebagai gelandang jangkar dan bek tengah.
Hasilnya pun cukup baik meski tidak dapat dikatakan sempurna sebagai gelandang. Blind tahu kewajibannya sebagai pemutus serangan lawan dan pengalir bola ke depan. Sedangkan sebagai bek tengah ia menempatkan diri dengan baik, untuk menutupi kelemahan fisiknya melawan striker-striker tangguh Premier League.
Bersama Red Devils ia juga kerap muncul sebagai pemecah kebuntuan dari lini tengah dengan sepakan kaki kirinya yang tidak bisa dibaca lawan.
5. Gareth Bale (Real Madrid)
Lulusan akademi Southampton ini bermain dan mengawali karirnya sebagai bek kiri di Tottenham Hotspur. Namun dua manajer Spurs di masa lalu, Harry Redknapp dan Andre Villas Boas mengembangkan permainannya hingga ke level tinggi.
Tahu Bale punya kecepatan dan kaki kiri yang kuat. Mereka perlahan mengembangkannya jadi gelandang hingga penyerang sayap, dan bahkan gelandang serang, posisi yang membuat Madrid kepincut dan akhirnya membeli Bale pada 2013.
4. David Alaba (Bayern Munchen)
Berkat polesan Josep Guardiola, banyak pemain Bayern yang dapat bermain di luar posisi terbaiknya. Termasuk salah satunya pemain berusia 23 tahun asal Austria, David Alaba.
Mengawali karir sebagai bek kiri. Guardiola mulai mentransisikannya sebagai gelandang tengah dan gelandang serang yang lebih mendekatkannya kepada gawang lawan. Alaba punya kaki kiri yang kuat dan juga pandai bertahan, kemampuannya itu membuatnya cepat beradaptasi di posisi barunya tersebut.
3. Sergio Ramos (Real Madrid)
Agresif, jago bola udara, cepat dan memiliki stamina kuat untuk maju ke depan saat bermain sebagai bek tengah, yang notabene posisi asli Ramos. Kemampuannya itu membuatnya dapat bermain sebagai bek kanan.
Ia rajin melakukan overlap atau turut membantu serangan tim di sisi tersebut, dan bahkan Carlo Ancelotti pernah bereksperimen menempatkannya sebagai gelandang bertahan. Ramos tidak bermain terlalu baik di posisi itu karena kesulitan mengalirkan bola, tapi di sisi lainnya pertahanan tim kian bertambah kuat.
Ramos melapis dua bek sentral Madrid sehingga jika ditarik garis besarnya, Los Merengues bermain dengan tiga bek sentral saat Ramos bermain sebagai gelandang bertahan.
2. Philipp Lahm (Bayern Munchen)
Pemain low profile alias rendah hati karena tak pernah banyak bicara kepada media, dan lebih menunjukkan kualitasnya kala merumput. Lahm ikut membantu Timnas Jerman meraih Piala Dunia 2014 dan meraih kesuksesan di Bayern selama bertahun-tahun.
Transformasi posisi Lahm terjadi di bawah asuhan Guardiola. Sang pelatih menilai Lahm memiliki intelejensia yang tinggi untuk dapat bermain sebagai gelandang jangkar, dalam formasi 4-1-4-1.
Ia jadi sentral otak lini tengah Bayern dalam hal penguasaan bola, dan bermain baik di posisi barunya itu. Meski ia sejatinya bek sayap yang bisa bermain di kanan atau kiri.
Badan Lahm kecil untuk ukuran orang Jerman, tapi Bayern dan Timnas Jerman respek kepadanya hingga ia menjabat sebagai kapten sampai ia pensiun dari Der Panzer. Kecil-kecil cabe rawit, itu lah Lahm.
1. Thomas Muller (Bayern Munchen)
Kerap jadi tokoh protagonis Bayern dan Jerman. Muller pemain multi fungsi yang dapat bermain sebagai gelandang serang kiri, tengah, dan kanan, penyerang kedua hingga penyerang utama.
Muller tidak memiliki skill menonjol seperti halnya Darren Fletcher di United yang diasuh Sir Alex Ferguson. Namun determinasi, enerji, dan kerja kerasnya memungkinkannya jadi andalan tim di tiap laga. Pergerakannya sulit ditebak lawan, dan kerap berada di posisi yang menguntungkan untuk mencetak gol.






0 nhận xét:
Đăng nhận xét