Selain para pemain, publik sepak bola juga memiliki idola di kalangan pelatih. Tentu saja faktor utamanya karena kejelian sang pelatih dalam meracik strategi yang berbuah kesuksesan.
Meski sosok-sosok seperti Jose Mourinho, Pep Guardiola, dan Sir Alex Ferguson memiliki semua level kesuksesan sebagai seorang pelatih di level klub, tak bisa dibantah kesuksesan mereka juga menciptakan para pembenci yang memiliki penilaian sendiri terhadap karir mereka, meski sebagian besar lebih dikarenakan rivalitas antar tim.
Beberapa pelatih berikut ini justru sebaliknya. Mereka dikenal tak memiliki banyak musuh dan justru mendapatkan banyak dukungan untuk bisa meraih kesuksesan yang lebih besar bersama timnya karena karakter mereka yang cukup menyenangkan dan tak terkesan arogan dan dingin.
Berikut adalah deretan pelatih yang nyaris tak memiliki pembenci dalam karier mereka.
Semua tentang sepak bola tersaji di aplikasi FTB90. Download di App Store dan Play Store.
6. Claudio Ranieri
Pelatih yang kerap dijuluki The Tinkerman karena senang mengubah-ubah taktik dan formasi timnya ini sekarang tengah meretas mimpi besar bersama Leicester City. Gagal bersama Chelsea di awal 2000-an, Claudio Ranieri kembali ke Inggris pada musim panas 2015 dan membuat kejutan terbesar dengan membawa The Foxes untuk sementara ini menguasai klasemen Premier League dengan keunggulan lima poin dari Tottenham Hotspur dan Arsenal.
Ada begitu banyak harapan untuk pelatih Italia ini bisa mempertahankan posisi Leicester City di puncak klasemen dan meraih titel Premier League pertamanya musim 2015/16 ini.
5. Roberto Martinez
Sepeninggal David Moyes pada musim panas 2013 untuk membesut Manchester United, Roberto Martinez mengambil alih jabatan manajer Everton. Meski prestasi Everton tak pernah begitu melejit di bawah komando Martinez, namun banyak yang memuji terapan sepak bola menyerang yang disuguhkan klub asal Merseyside tersebut dan bagaimana ia mampu mengeluarkan kemampuan terbaik dari para pemainnya.
Banyak yang memperkirakan bahwa Martinez bisa memiliki karier yang jauh lebih baik jika bekerja sebagai manajer tim papan atas.
4. Diego Simeone
Atletico Madrid dikenal sebagai tim yang cenderung menerapkan permainan super kasar dan bahkan menjurus brutal dan itu tak lepas dari instruksi sang pelatih, Diego Simeone, yang selama aktif bermain memang dikenal sebagai gelandang bertahan anti kompromi.
Sepak bola ala Simeone berpeluang menimbulkan kebencian di kalangan pecinta sepak bola, namun ketika ia berhasil mematahkan dominasi Real Madrid dan Barcelona pada musim 2013/14, sosoknya menjadi begitu disukai banyak penggemar sepak bola.
3. Jurgen Klopp
Menasbihkan dirinya sebagai seorang rocker dalam dunia sepak bola, Jurgen Klopp tidak berlebihan dalam menilai dirinya. Performa Borussia Dortmund yang mengejutkan Eropa hingga mereka menjadi finalis Champions League pada 2012/13 menjadi pembenaran atas label yang ditempelkan Klopp pada dirinya sendiri. Sempat dipandang sebelah mata, Klopp kini disebut sebagai salah satu ahli strategi terbaik di generasinya.
Dengan filosofi sepak bola menyerang yang diusungnya, pendukung Liverpool kini berharap perbaikan nasib tim kesayangan mereka di tangan sang rocker.
2. Antonio Conte
Massimiliano Allegri mungkin adalah sosok yang duduk di bangku pelatih Juventus pada malam final Champions League 2014/15 saat timnya menghadapi Barcelona. Namun, tak akan ada yang melupakan fakta bahwa ide Antonio Conte dalam membangun skuat The Old Lady di tiga musim sebelumnyalah yang membawa mereka ke final.
Tiga gelar Serie A beruntun bersama Juventus diraihnya dan ia kini dipercaya membesut Tim Nasional Italia. Sosoknya yang cenderung tenang dan membiarkan hasil dari olahan taktiknya yang berbicara membuat Conte menjadi sosok yang dicintai publik dan media.
1. Carlo Ancelotti
Nama Italia ketiga dalam daftar ini sekaligus yang tersukses. Carlo Ancelotti adalah salah satu pelatih yang begitu disegani dengan kecerdikannya dalam membentuk tim dan meramu strategi terbaik sesuai komposisi pemain yang dimilikinya. Pribadinya di luar lapangan pun nyaris tanpa kontroversi. Tim sepak bola di bawah arahannya selalu bisa bermain dengan tenang tanpa gangguan dari media.
Tiga gelar Champions League, terakhir bersama Real Madrid pada 2013/14, dan gelar liga di tiga negara (Italia, Prancis, dan Inggris) menjadikan Don Carlo sebagai sosok yang sulit ditandingi kesuksesannya. Tak mengherankan ketika Bayern Munchen memilih melepas ahli strategi sekelas Pep Guardiola, mereka beralih kepada jenius lainnya, Carlo Ancelotti.






0 nhận xét:
Đăng nhận xét