Thứ Tư, 10 tháng 2, 2016

6 Alasan Mengapa Banyak Pemain Liga Eropa yang Bermain di Chinese Super League

Bukan klub-klub asal Eropa yang menjadi ‘artis’ di bursa transfer musim dingin lalu dengan kejutan pemain yang mereka datangkan, melainkan klub-klub asal China yang mencuri perhatian dunia.

Jelang Chinese Super League 2016 yang dimulai Maret 2016. Para klub Negeri Tirai Bambu memanfaatkan kesempatan bursa transfer pemain yang dibuka hingga 26 Februari 2016 sebagai kesempatan memperkuat tim, dan mendatangkan pemain bintang.

Tapi roda transfer yang mereka lakukan tak hanya berkutat di Asia, Afrika, atau Amerika Selatan, melainkan Eropa. Sensasi Chinese Super League 2016 kembali menjadi daya tarik pemain-pemain yang masuk kategori bintang Eropa, hengkang ke China.

Mereka adalah Gervinho (Hebei China Fortune), Fredy Guarin (Shanghai Shenhua), Ramires, Alex Teixeira (Jiangsu Suning), dan Jackson Martinez (Guanzhou Evergrande).

Tak pelak sejumlah transfer besar itu menimbulkan pertanyaan, mengapa banyak pemain liga Eropa yang memilih bermain di Chinese Super League? Padahal beberapa di antara mereka masih mumpuni bermain di level Eropa, dan tentunya bermain di Benua Biru lebih menjanjikan untuk dipanggil timnas negaranya masing-masing.


Semua tentang sepak bola ada di aplikasi FTB90. Download di ​App Store dan ​Play Store.


6. Sosok Penting

FBL-BRITAIN-FILM-POR-RONALDO

Satu orang dapat mengubah segalanya. Sosok itu pantas disematkan kepada Jorge Mendes, pria yang dianggap orang paling berpengaruh dalam dunia sepak bola Eropa. Mendes bukan hanya agen, namun juga magnet pesepak bola Eropa.

Baru-baru ini dia bertemu dengan ofisial Chinese Super League dan menandatangani perjanjian untuk memanfaatkan agensinya yang sudah beken di Benua Biru. Kesepakatan itu membesarkan potensi banyaknya bintang Eropa yang datang dan akan datang di kemudian harinya ke China.

5. Dana Besar

FBL-CHN

Dua alasan mendasar jadi sebab klub-klub China dapat membayar mahal klub Eropa untuk membeli pemain, dan menggajinya dengan bayaran yang besar, hingga pemain Eropa tertarik datang. Pertama tidak ada batasan transfer di China seperti halnya Financial Fair Play di Eropa dan salary cap di A-League serta MLS.

Hal itu memungkinkan klub China membeli pemain manapun yang diinginkan dengan nominal yang besar. Kedua adalah kesepakatan besar dengan hak siar televisi yang dilaporkan mencapai 1,2 juta dolar, dan dibagi rata dengan tim-tim yang terlibat.

Bak hubungan simbiosis mutualisme, kemungkinan dana besar untuk menarik pemain bintang Eropa ke China berpotensi semakin besar jika penonton terus membludak menyaksikan pertandingan di stadion dari bintang-bintang Eropa tersebut.

Belum lagi jika klub berprestasi di Champions League Asia, FIFA Club World Cup dan mendapatkan tawaran uji coba dengan klub dunia lainnya.

4. Tantangan Baru

FBL-CHN-GUANGZHOU-PAULINHO

Tiap pesepak bola Eropa memiliki visi bermain yang berbeda-beda. Ada yang ingin sekedar membela klub besar Eropa, beken, mencapai puncak dunia bersama timnas negaranya masing-masing, dan lain sebagainya.

Namun bermain di luar Eropa merupakan tantangan tersendiri bagi mereka. Ada kans mereka tidak dilirik pelatih timnas negara karena jauh dari pantauan, dan namanya yang perlahan hilang dari pemberitaan media Eropa.

Meski begitu hal itu tak menghalangi mereka hengkang dan keluar dari comfort zone Eropa. Bermain di Asia jadi tantangan baru laiknya bermain di Amerika Serikat, Amerika Selatan, dan Timur Tengah. Para pemain Eropa juga bisa belajar kultur sepak bola Asia.

3. Tak Kalah Tenar Dengan MLS

Beijing's Ultras A Part Of Growing Football Culture In China

Pemain-pemain Eropa yang melewati usia emasnya biasa pergi ke MLS atau Major League Soccer untuk mencoba peruntungan mereka di Negeri Paman Sam. Mereka seperti David Beckham, Frank Lampard, Thierry Henry, Steven Gerrard, Kaka, dan Andrea Pirlo.

Namun Chinese Super League tak mau kalah menarik atensi bintang-bintang liga Eropa. Selain peraturan sepak bola yang tidak ketat seperti MLS, Chinese Super League juga sudah mulai bersaing dari sisi penonton yang menyaksikan langsung pertandingan.

Info yang didapat dari Guardian, musim lalu ada lebih dari 22.000 penonton yang datang ke stadion dan hanya kurang 200 dari Italia dan Prancis, dan musim ini diprediksi meningkat hingga 25.000. Bahkan prediksi dari pegawai level tinggi China memprediksi pada 2018 penonton rata-rata laga akan menjadi tiga terbaik dunia setelah Premier League dan Bundesliga.

Ketenaran itulah yang mulai tercium pemain Eropa hingga mereka ingin hengkang ke China. Visi mereka juga jadi daya tarik tersendiri karena mereka ingin menjadi bagian sejarah sepak bola China di masa depan.

2. Pendahulu Membuka Jalan

FBL-ASIA-CHN-DROGBA

Selalu ada permulaan di segala halnya dan hal itu juga berlaku di China. Sebelumnya di MLS Beckham membuka jalan bagi pesepak bola Eropa mempopulerkan sepak bola di Amerika Serikat saat bergabung dengan Los Angeles Galaxy pada 2007.

Pun begitu China yang diawali dari kedatangan Didier Drogba, Nicolas Anelka, Demba Ba, dan Asamoah Gyan. Mereka pesepak bola yang membuka jalan pesepak bola Eropa ke China, sekaligus mempopulerkan Chinese Super League.

1. Didukung Pemerintah

State Visit Of The President Of The People's Republic Of China - Day 5

Ini salah satu faktor krusial penentu banyaknya pemain liga Eropa yang pergi ke China. Tak tanggung-tanggung orang nomor satu China alias Presiden China, Xi Jinping merupakan pecinta sepak bola.

Ia memiliki visi membangunkan ‘singa’ yang tertidur di negaranya dan kembali menjadikannya raja Asia. China ingin dijadikan Xi Jinping sebagai kiblat sepak bola Asia dan memulai revolusi dengan bintang-bintang Eropa yang bertebaran di Chinese Super League.

Kehadiran mereka diharap dapat mendongkrak sepak bola China, khususnya akademi muda sepak bola China dan berdampak positif kepada Timnas China. Mereka tidak ingin kalah dari Jepang yang terlebih dahulu populer di dunia dengan keterlibatan mereka di Piala Dunia.

0 nhận xét:

Đăng nhận xét