Football Leaks adalah situs pembongkar rahasia seperti WikiLeaks. Reputasi mereka belakangan ini mencuat setelah membocorkan dokumen transfer Anthony Martial dan Gareth Bale. Football Leaks mengaku sedang berjuang demi transparansi dalam dunia sepak bola. 

Biaya transfer Gareth Bale adalah bocoran dokumen terakhir yang mereka terbitkan. Bale dikatakan telah dijual ke Real Madrid seharga lebih dari £100 juta. Banyak pihak berkepentingan yang bereaksi tentu saja. Agen Gareth Bale adalah salah satu yang paling keras mengomentari bocornya dokumen transfer kliennya. 

​Tapi klaim perjuangan untuk transparansi itu belum-belum sudah tercoreng. Football Leaks dituduh melakukan upaya-upaya pemerasan terhadap berbagai pihak. Akibatnya, polisi kini ikut bertindak dan menyelidiki situs gelap yang penuh misteri itu.

​​

Menurut ​Mirror, ada sejumlah surel (e-mail) yang tampaknya dikirim oleh orang-orang yang bertanggung jawab di balik kegiatan Football Leaks. Isinya mengandung ancaman yang salah satunya ditujukan untuk Doyen Sports, sebuah agensi transfer pemain yang paling banyak kena dampak bocoran. Football Leaks konon meminta bayaran jutaan euro agar tidak ada lagi dokumen yang beredar.

Doyen Sports adalah agensi yang menangani transfer Marcos Rojo ke Manchester United selain pembelian Manchester City sebesar £42 juta untuk Eliaquim Mangala. Sebelum informasi tentang dokumen transfer beredar, pria bernama Artem Lovuzov (kemungkinan palsu) konon telah melakukan negosiasi pemerasan.

Memurut pengakuan CEO Doyen, Nelio Lucas, surat yang diketahui berasal dari Kazakhstan itu menulis, "Sebuah donasi akan memastikan semua informasi yang saya miliki akan dihancurkan.”

Ketika ditanya maksud dari donasi itu, Lovuzov menjawab, “Saya kira antara €500.000 dan sejuta adalah donasi yang baik, tapi saya menerima masukan Anda.”

Balas-membalas surel terus terjadi sejak Oktober 2015. Football Leaks baru muncul sebulan sebelumnya. Dokumen pertama yang mereka ungkap adalah soal kontrak di Eredivisie yang menyebut nama Dusan Tadic dengan FC Twente.

Pembocoran itu berakibat penyelidikan Federasi Sepak Bola Belanda terhadap Twente dan berakibat pengunduran diri Aldo van der Laan, bos klub. Tadinya dalang di balik situs misterius itu diperkirakan dari Portugal, tapi belakangan lokasi server pindah ke Rusia.

Situs aslinya tidak lagi bisa diakses, tapi pernyataan resmi di blog ​​Football Leaks telah membantah bahwa mereka pernah menghubungi Doyen untuk meminta tebusan. 

Cara beroperasi FL lain dengan WikiLeaks. Julian Assange secara terang-terangan mengaku sebagai pendiri dan pengelola walau kemudian sempat diburu aparat penegak hukum. Tapi Assange banyak mendapat dukungan dan bahkan bisa berbicara di hadapan publik.

​​